


Credit photo Bala Putra Dewa Dicopy dari rejang-lebong.blogspot.com



Credit photo Bala Putra Dewa Diposting oleh wild civet di 06.29 0 komentar
Label: bengkulu
Air terjun Suban Air Panas merupakan salah satu dari beberapa air terjun yang terdapat di kawasan Suban Air Panas, satu terdapat di dekat jembatan di jalan masuk ke Suban Air Panas, dan satunya lagi di atas lokasi pemandian air Suban Air Panas. Air terjun yang terletak di dekat jembatan tingginya kira-kira 75 meter. Terletak di kawasan Cagar Alam Cawang. Lokasi ini dijadikan sebagai Cagar Alam, karena konon kabarnya di kawasan ini sering bunga raflesia tumbuh dan mekar. Dulu terdapat tulisan yang menerangkan keberadan kawasan cagar alam di kawasan ini, sekarang tulisan tersebut tidak terdapat lagi, apakah masih dijadikan kawasan cagar alam? Gambar yang air terjun ini adalah gambar air terjun pada tahun 1985, tak kala penulis turun mengunjungi air terjun ini.
dicopy dari : rejanglebong.blogspot.com
Diposting oleh wild civet di 06.28 0 komentar
Label: bengkulu



Diposting oleh wild civet di 06.27 0 komentar
Label: bengkulu


Diposting oleh wild civet di 06.25 0 komentar
Label: bengkulu
air terjun kepala curup
Tiga puluh kilometer dari Curup, perjalanan yang kita tempuh bila kita ingin melakukan perjalanan ke air terjun ini. Letaknya di Desa Kepala Curup Kecamatan Padang Ulak Tanding Kabupaten Rejang Lebong. Dengan berjalan kaki kira-kira 300 meter dari jalan raya kita dapat menikmati pemandangan indah air terjun ini. Ketinggian air terjun ini 100 meter, di belakang air terjun terdapat gua.
Air terjun ini digunakan oleh PLN untuk pembangkit listrik mini hidro, yang dapat mensuplai kebutuhan listrik bagi penduduk Kecamatan Padang Ulak Tanding, Sindang Kelingi, dan Kota Padang. Sayangnya pembangkit listrik ini tidak lagi berfungsi dikarenakan kerusakan generatornya. Kerusakan ini telah terjadi lebih dari 5 tahun. Gubernur Bengkulu H. Hasan Zen, 4 tahun silam pernah berkunjung melihat air terjun dan pembangkit listrik ini. Kala itu Hasan Zen, sempat marah melihat kerusakan pembangkit listrik ini yang belum juga diperbaiki oleh PLN. Konon kabarnya Pemda Propinsi Bengkulu juga mendapat pendapatan daerah bila pembangkit listrik ini beroperasi. Menurut imformasi pernah didatangkan alat untuk memperbaiki generator ini tapi tidak dapat dipakai, entah apa sebabnya. Lima tahun sudah, gubernur telah berganti ke Agusrin, pembangkit listrik ini tetap merana diantara keindahan alam air terjun Kepala Curup. Siapa peduli...
Diposting oleh wild civet di 06.22 0 komentar
Label: bengkulu
Menilik dari namanya saja, Danau Dendam Tak Sudah sudah menyiratkan sebuah kisah tragis dibaliknya. Memang, nama danau ini dipercayai terkait dengan legenda sepasang muda-mudi. Mereka mengikat janji sehidup semati, tetapi kisah asmara mereka tak kesampaian, karena orangtua sang gadis tidak merestui. Dia dijodohkan dengan laki-laki lain, padahal benih-benih cinta di hati kedua remaja ini tidak bisa dipisahkan lagi.
Lalu kedua anak muda yang dimabuk asmara itu bunuh diri ke dalam danau. Konon sejak itu di dalam danau terdapat dua ekor lintah besar, yang merupakan jelmaan sepasang kekasih tersebut.
Pada cerita versi lain, danau ini sengaja dibuat untuk mencegah terjadinya intrusi air laut. Kawasan danau ini memang berjarak kurang lebih dua kilometer dari bibir pantai dan dipergunakan untuk mencegah mengalirnya air laut ke darat.
Di masa Belanda, danau ini kemudian dibuat dam, agar lebih tertata dan tidak mudah meluap serta memudahkan pembuatan jalan. Bukti-bukti dam itu bisa terlihat hingga kini. Namun setelah merdeka, pembangunan dam terbengkalai. Dam yang tak selesai itu menginspirasikan warga setempat untuk menamainya menjadi Dam Tak Sudah dan kata "Den" di depan kata "Dam" hanyalah merupakan "kerancuan" yang sengaja ditimbulkan untuk menggelitik rasa ingin tahu.
Danau seluas 37,50 hektare itu memiliki keunikan yang tidak dimiliki danau lainnya. Di bawah Danau Dendam Tak Sudah, konon terdapat gunung berapi.
Danau ini juga memiliki berbagai flora unik, yakni anggrek Pensil (vanda hookeriana), yang diyakini hanya tumbuh di kawasan ini. Flora unik yang lain adalah anggrek matahari, bakung, nipah, pulai, ambacang rawa, terentang, plawi, brosong, gelam, pakis dan sikeduduk.
Panorama di kawasan danau juga sangat indah. Sejauh mata memadang, pengunjung akan dimanja lanskap Bukit Barisan yang membiru dan terlihat sayup-sayup di kejauhan.
Di seputar danau kini menjadi kawasan cagar alam karena menjadi plasma nuftah bagi anggrek pensil. Juga ditemukan berbagai fauna seperti kera ekor panjang, lutung, burung kutilang, babi hutan, ular Phyton, siamang, siput dan berbagai jenis ikan termasuk ikan langka seperti Kebakung dan Palau.
Kalau dilihat danaunya saja, mungkin tempat ini masih kalah dibanding Danau Toba atau Danau Singkarak, tapi bila dilihat potensi flora dan fauna di seputar kawasan danau, rasanya tidak ada yang menyamai. Untuk menemui berbagai flora dan fauna di seputar kawasan danau, pengunjung harus menjelajah kawasan Cagar Alam Dusun Besar seluas 577 Ha. Hanya saja akibat perambahan, tidak seluruh flora dan fauna bisa ditemukan dalam sekali jelajah. Berdasarkan hasil foto satelit citra Landsat tahun 1998, kawasan yang masih berhutan tinggal 52 hektare.
Perambahan cagar alam telah mencapai 70% dari luas kawasan, terutama di sepanjang kiri jalan air Sebakul-Desa Nakau. Perambahan ini telah mengancam kondisi fisik kawasan serta sejumlah flora dan fauna yang kini mulai sulit ditemui.
Beruntung, anggrek pensil yang merupakan flora unggulan Danau Dendam Tak Sudah, hingga kini masih bisa dinikmati pengunjung. Anggrek dengan bunga putih dipadu warna ungu dan bintik-bintik hitam, selalu menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang ke danau itu.
Lutung dan kera ekor panjang pun terkadang masih bisa terlihat bergelantungan di pohon-pohon. Namun fauna lain, kini mulai jarang ditemui.
Kini danau tersebut juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area). Kawasan ini merupakan penyuplai sebagian besar air untuk petani di kota Bengkulu serta penyimpan cadangan air tanah.
Cagar Alam Dusun Besar tempat danau ini berada memiliki topografi wilayah antara nol sampai delapan 8%. Ketinggian kawasan ini dari permukaan laut kurang lebih 15 meter. Bentukan lahan dari batuan yang menyusun kawasan terdiri dari batuan neogin (Pliosin dan Miosin).
Di kawasan danau, pengunjung bisa menyaksikan pemandangan alam berupa permukaan danau yang terlihat kemerahan ditimpa sang surya menjelang beranjak keperaduannya. Atraksi matahari terbit disertai udara pagi yang bersih serta semburat warna merah di permukaan danau menjelang malam sangat ideal bila diabadikan dari lensa kamera.
Keasrian danau serta lingkungan cagar alam yang luas merupakan potensi bagi wisatawan minat khusus untuk melakukan pendidikan dan penelitian. Di lokasi ini, pengunjung juga bisa berperahu dan menggunakan rakit ke seluruh penjuru danau, dan memancing.
Beberapa warga di seputar danau menyediakan pondok-pondok yang menawarkan berbagai jenis makanan seperti jagung bakar dan kelapa muda. Beberapa makanan khas Bengkulu seperti perut punai, lempuk dan kue tat juga bisa dibeli di sekitar lokasi. (*/cax)Diposting oleh wild civet di 21.46 1 komentar
Label: bengkulu
Diposting oleh wild civet di 21.34 0 komentar
Label: bengkulu
Dari puluhan objek wisata yang ada di Provinsi Bengkulu, Telaga Puteri Tujuh Warna merupakan tempat yang paling unik sehingga dijadikan salah satu objek andalan.keunikan dari objek wisata itu yakni dari tujuh telaga yang ada warna airnya berbeda-beda, yaitu biru, merah, cokelat, hitam, putih, abu-abu, dan merah muda.
“Ketujuh telaga tersebut diberinama sesuai warnanya, yaitu Telaga Biru, Telaga Merah, Telaga Cokelat, Telaga Hitam, Telaga Putih, Telaga Abu-Abu, serta Telaga Merah Muda,” katanya.
Telaga Putri Tujuh Warna berlokasi di Desa Rimbo Pengadang, Air Dingin, perbatasan Kabupaten Rejang Lebong dengan Kabupaten Lebong. Luas lokasi Telaga Putri Tujuh Warna tersebut diperkirakan mencapai 50 hektare dengan jarak tempuh 20 km dari pusat kota Curup, ibu kota Kabupaten Rejang Lebong, atau sekitar 120 km dari Bandara Fatmawati, Kota Bengkulu.
Untuk mencapai lokasi, para wisatawan harus menempuh dengan berjalan kaki melalui jalan setapak lebih kurang dua jam perjalanan. Objek wisata tersebut selama ini belum terpublikasikan serta belum ada pengelolaan, padahal sangat bagus dan memiliki kekhasan yakni memiliki air tujuh warna.
Sepanjang jalan menuju lokasi bisa di jumpai ladang ladang penduduk, hutan hujan tropis yang menghijau, dan bukit bukit barisan yang berbaris terhampar jauh, sudut pemandangan alam yang masih bisa di nikmati di kawasan Rimbo Pengadang. Menghirup udara yang segar bebas polusi serta menikmati keasrian flora dan fauna lokal tanah Rejang. Dalam perjalanan berjalan kaki, gemercik aliran air yang bening bisa di temui sebagai mata air kecil yang mengalir di sekitar jalan menuju lokasi, lumayan buat obat penghilang lelah saat berjalan kaki, apalagi membasuh muka akan terasa menyegarkan badan yang penuh keringat karena berjalan kaki.
Telaga terdiri dari telaga besar yang berdiameter sekitar 50m yang berwarna : Biru, merah, putih, dan keabuan
Dan telaga kecil yang berada di sekitar telaga besar yang berwarna : kuning, coklat, dan hitam
Bilai kita tiba dilokasi yang pertama kita saksikan adalah telaga biru. Telaga biru merupakan kolam alam sumber air panas (hot spring) yang cukup besar, berdiameter sekitar 10 m, beserta beberapa kolam kecil di sekitarnya.
Sekitar telaga Biru akan di jumpai sekumpulan telaga kecil (kolam alami) yang berwarna kuning,hitam dan coklat.
Telaga warna kuning
Telaga warna hitam
Warna kecoklatan ditelaga kecil dekat telaga biru
Dari telaga biru kita baru akan menemukan dengan berjalan kaki sekitar 200 meter untuk menemukan lokasi telaga merah. Diperjalanan menuju telaga merah ini kita bisa menemukan sungai kecil warna merah, flora hutan selain pepohonan juga di dominasi paku-pakuan dan pandan-pandanan, serta vegetasi lumut yang banyak terdapat di hutan basah tropis.
Telaga merah
Selanjutnya, berjarak sekitar 500 meter dari telaga merah (cukup jauh juga buat berjalan kaki) kita akan menemukan telaga abu – abu. Perjalanan menuju telaga kecil ini mesti hati hati karena menuruni tebing. Telaga abu – abu ini hanya berdiameter sekitar 4 meter.
Telaga abu abu
Berjalan kaki sejauh 500 meter lagi, kita akan menemukan telaga utama(paling besar) yaitu telaga putih, dengan lebar sekitar 50 meter dan panjang 100 meter. Dari sini kita bisa melihat langit dengan leluasa, karena di perjalan sebelumnya langit tertutup oleh lebatnya daun pepohonan.
telaga putih
Asal nama telaga Puteri Tujuh Warna Konon di telaga terbesar yaitu telaga yang berwarna putih dilarang untuk menyebutkan kata puteri, di percaya bila menyebut kata puteri maka semburan mata air besar di tengah danau akan semakin besar, oleh karena itu di beri nama telaga Puteri Tujuh Warna.(http://mytravelblogging.com)
sumber : echoarianto.wordpress.comDiposting oleh wild civet di 21.04 0 komentar
Label: bengkulu
Salah satu objek wisata bengkulu yang menjadi andalan di propinsi Bengkulu adalah Pantai Panjang Bengkulu. Keunikan objek wisata bengkulu ini adalah pantai dimana panorama alamnya yang elok dan didukung dengan pasir putih yang bersih terhampar sepanjang sekitar 7 km serta ditumbuhi oleh pohon cemara pantai di sepanjang bibir pantai.
Untuk menuju ke lokasi objek wisata bengkulu ini sangatlah mudah karena transportasi berupa angkutan kota (angkot) selalu tersedia setiap saat, jarak yang ditempuh hanya 15 menit dari pusat kota Bengkulu atau sekitar 3 km menuju gerbang pantai panjang Bengkulu.
Di lokasi objek wisata bengkulu ini sudah dibangun beberapa fasilitas yang membuat wisatawan betah berlama-lama menikmati panorama alam pantai seperti Shelter, rumah makan, cottages, tempat hiburan, hotel berbintang dan Mall.
Bagi masyarakat Bengkulu sendiri, pantai panjang dijadikan salah satu pusat therapy bagi beberapa macam penyakit karena di sepanjang bibir pantai telah dibangun jogging track yang difungsikan untuk melancarkan peredaran darah bagi pejalan kaki, jadi jangan heran apabila pada sore dan pagi di hari libur banyak pengunjung bertelanjang kaki berjalan di atas jogging track tersebut.
Pantai panjang bisa dijadikan salah satu alternatif keluarga untuk refreshing dan bersantai.
Penasaran ? Segera Kunjungi objek wisata bengkulu ” Pantai Panjang Bengkulu ” !!!
Diposting oleh wild civet di 21.03 0 komentar
Label: bengkulu
Diposting oleh wild civet di 20.59 0 komentar
Label: bengkulu
Hutan Wisata Pungguk Menakat lebih dikenal dengan nama Taman Hutan Raya (TAHURA).Terletak di Kecamatan Muara Bangkahulu Kabupaten Bengkulu Utara. Berdasarkan SK Menhut No. 218/Kpts-ll/1991 luasTahura 1.122 Ha. Memiliki potensi sebagai kebun sumber daya alam hayati (Bundayati) Bengkulu dengan fungsi utama sebagai kebun koleksi. Di areal tersebut dikembangkan kebun uji dari sub sektor pertanian tanaman pangan. perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan, Di Tahura juga terdapal Bunga Bangkai Raksasa hasil pembiakan dari Alam.
Cara mencapai lokasi:
Dengan kendaraan pribadi/umum dari pasar minggu ke Bentiring turun di Tanjung Terdana.
Diposting oleh wild civet di 20.18 0 komentar
Label: bengkulu
Kulit tergores dahan pohon, celana dikotori lumpur, dan napas hampir putus ketika Kompas tiba di puncak Taman Wisata Alam Bukit Kaba, di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Kami diperdaya keindahan Bukit Kaba. Namun, meski bukit itu indah, tapi lebih indah lagi bila tak harus berjibaku menuju ke sana....
oleh wartawan KOMPAS Haryo Damardono
Kami berangkat menuju puncak Bukit Kaba, berbekal informasi positif. “Menuju puncak Bukit Kaba, dapat naik mobil. Perjalanannya mudah, tempatnya bagus dapat langsung lihat kawah,” kata seseorang di Warung Pindang Patin di Curup, ibu kota Kabupaten Rejang Lebong; saat Tim Jelajah Musi 2010 singgah di sana.
Kami pun melesat, meninggalkan Curup lewat jalan nasional arah Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Lalu 15 kilometer dari Curup, berbelok kanan di Desa Sumber Urip, setelah bertanya berulang kali karena tiada papan petunjuk arah. Setelahnya, di jalan desa itu kami kembali harus bertanya supaya tak tersesat.
Dan perjalanan memburuk, setelah mobil kandas di jalan desa yang berlubang kira-kira lima kilometer dari puncak Bukit Kaba. “Dulu jalan ini bagus, lalu rusak oleh diesel (truk) pengangkut sayur,” kata M Yusuf, warga Karang Jaya, Kecamatan Selupu Rejang.
Mobil pun ditinggal di tepi jalan, lantas motor ojek disewa. Tarifnya Rp 60.000 pulang pergi. Meski jalan rusak, motor itu dikebut. Bahkan karena aspal berlumut, tiga kali motor jatuh di tepi jurang sedalam ratusan meter. Dua kali pula, kami mendorong motor lewat longsoran.
Akhirnya, kami tetap jalan kaki ke puncak, karena longsoran terakhir menutup badan jalan.
Setiba di puncak setinggi 1.936 meter di atas permukaan laut itu, kami berkelakar soal nama. Seharusnya, Taman Wisata Alam itu tak dinamai Bukit Kaba tapi “Bukit Baka”. Sebab, kami nyaris “bermigrasi” ke alam baka sebelum tiba di sana.
Infrastruktur buruk
Sebenarnya, Bukit Kaba sangat-sangat berpotensi menjadi wisata andalan. Indahnya Bukit Kaba, jujur saja, sebanding Gunung Bromo di Jawa Timur dan Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Kawah vulkanik adalah pemandangan andalan di sana.
Dan bila di Gunung Bromo ada ratusan anak tangga menuju puncak, di Bukit Kaba juga ada “tangga seribu” untuk mencapai bibir puncak kawah. Dari puncak Bukit Kaba terhampar pula pemandangan Kabupaten Rejang Lebong, dan Curup, kota kopi itu.
Ada kalanya, kabut tebal menutup pemandangan ke hamparan kebon-kebon kopi. Tapi kabut disertai hawa dingin, adalah sebuah sensasi tersendiri bagi wisatawan dari kota, terutama dari kota pesisir.
Jadi ketika Gunung Bromo dan Tangkuban Perahu berjaya, mengapa Bukit Kaba meredup? Titik lemahnya adalah, buruknya infrastruktur, tak ada angkutan massal seperti oplet atau mobil travel, tiada promosi, serta gagalnya membentuk pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Dulu, mobil bergardan ganda dapat mencapai puncak, kini naik motor pun sulit. Jalan aspal selebar 3-4,5 meter itu masih ada, tapi tertutup semak belukar dengan hanya menyisakan 20 sentimeter aspal. Singkat kata, bukit itu ditelantarkan.
Lantas, jangankan promosi di mancanegara, untuk menuju Bukit Kaba dari Curup saja wisatawan kerap tersesat. Padahal, andai Bukit Kaba mudah dijangkau dan ramai, tak mustahil penduduk di desa-desa terdekat beroleh manfaat ekonomi. Penduduk dapat nembuka restoran, menyewakan kamar (home stay), menjual cendera mata, atau sekadar menjadi pemandu wisata.
Mengapa pula tidak terpikir mendirikan kafe-kafe di puncak Bukit Kaba, dengan sajian utama kopi rejang lebong? Mengapa kafe menjadi penting, sebab walaupun penduduk setempat bangga hidup di sentra kopi, tapi sulitnya mencari kafe atau kedai kopi “yang layak” di Curup.
Berpikir bisnis
Mungkin, “pembiaran” terhadap Bukit Kaba dipicu kepemilikan Hutan Wisata Bukit Kaba seluas 13.490 hektar di tangan pemerintah pusat. Boleh jadi, karena tak merasa memiliki, Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong tak memedulikannya.
Padahal, andai kata Pemkab Rejang Lebong jeli, cukup dibangun infrastruktur dasar yang baik di sana, seperti jaringan jalan, jaringan air minum, hingga menara telekomunikasi sehingga sinyal mudah didapat. Toh nantinya, bila infrastruktur dasar memadai, akan ada swasta yang membangun berbagai fasilitas pendukung di kawasan penyangga Bukit Kaba.
Ketika klaster ekonomi baru tumbuh di sana, selain pemasukan dari pajak seperti pajak bumi dan bangunan, pajak restoran, dan pajak penghasilan; pemda terbantukan dengan potensi penyerapan tenaga kerja. Artinya, tak harus dipersoalkan siapa pemilik Bukit Kaba! Bangun segera infrastruktur di sana.
Jadi Tuan Bupati, kami menunggu dibenahinya Bukit Kaba. Sebab, karena indahnya, kami memang berniat kembali, meski tak ingin lagi bermain dengan maut. Lantas, indahnya Bukit Kaba sepatutnya meningkatkan taraf hidup warga setempat. Bukit seindah itu, singkatnya tak layak dikelilingi oleh desa-desa yang hidupnya belum sejahtera….
sumber : lipsus.kompas.comDiposting oleh wild civet di 20.16 0 komentar
Label: bengkulu