Danau Pulau Satonda

Jumat, 09 Juli 2010

Pulau Satonda dengan danau di tengahnya di lihat dari udara.


Pulau Sumbawa adalah salah satu dari dua pulau besar di Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di pulau Sumbawa terdapat tiga daerah kabupaten yaitu Sumbawa di bagian barat, Dompu ditengah dan Bima di sebelah timur. Pada musim kemarau, ketiga daerah ini terlihat gersang karena bukit dan gunung menjadi gundul kekeringan. Coklatnya bukit ditemui di sepanjang perjalanan di daerah ini.


Meskipun demikian, ternyata pulau Sumbawa tidak miskin potensi obyek wisatanya. Kabupaten Sumbawa memiliki obyek wisata tradisional selain alam pantai. Kabupaten dan kota Bima memiliki potensi wisata budaya dari peninggalan kerajaan di sana.

Nah, di wilayah Kabupaten Dompu yang terletak di bagian tengah pulau Sumbawa ini, selain ada lokasi selancar di Pantai Lakei - di bagian selatan yang sudah sangat dikenal oleh peselancar dunia. Kemudian, gunung api Tambora di utara yang letusannya pada tahun 1815 terdahsat di dunia.

Akibat letusannya, terbentuk lubang sedalam satu kilometer dan radiusnya tujuh kilometer, telah menyirnakan tiga kerajaan lokal di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima. Yaitu Kerajaan Pekat, Sanggar dan Tambora yang merupakan taklukan dari kerajaan Bima. Dentuman paroksismal dirasakan oleh penduduk yang berada di pulau Bangka dan Belitung. Gempa bumi yang terjadi bersamaan letusan tersebut dirasakan di Surabaya dan gelap gulita selam tiga hari akibat asapnya dialami masyarakat pulau Madura pada jarak 500 kilometer dari pusat letusan. Tinggi asap letusan menjulang tinggi ke angkasa mencapai puluhan kilometer sehingga mempengaruhi perubahaan global terhadap sistem iklim dunia.

Dan di seberangnya barat laut dari Tambora tersebut, ada pulau Satonda. Inilah sebuah pulau gunung api di seberang daratan pulau Sumbawa. Di dalam pulau seluas 4,8 kilometer persegi tersebut terdapat danau seluas 0,8 kilometer persegi. Semua dasar danaunya berkarang. Airnya pun rasa asin. Menariknya, setiap terjadi pasang surut air laut di luar pulau tersebut, juga hal yang sama terjadi di danau tersebut.

Itulah obyek wisata yang telah belasan tahun diperebutkan kewilayahannya oleh Pemerintah Kabupaten Bima dan Pemerintah Kabupaten Dompu. Terletak dekat desa Nangamiru Dompu, Satonda menjadi persinggahan wisatawan dalam pelayaran dari Bali ke Flores-NTT. Satonda dipuji danaunya yang berair laut adalah keajaiban dunia. Air laut mengalir melalui bawah tanah. Apabila air laut surut maka danau pun menjadi surut.

Pulau Satonda yang disebut sebagai taman wisata itu pernah diteliti diantaranya oleh E.T.Degens, V Ittekot Stephan Kempe (Institute of Biogechemistry and Marine Chemistry, University of Hamburg Jerman) pada bulan Nopember 1984, Prof. D.Eisma, Josef Kazmierczak (Institute of Paleobiology, Polish Academy of Sciences Polandia) pada bulan Desember 1986 dan 1995. Prof.How Kin Wong dan Uwe Selge, 4 Oktober 1986.

Sejarahnya, diperkirakan air laut memasuki danau yang semula kaldera gunung Satonda sekitar tahun 2000 sebelum masehi. Masuknya air laut ke sana sewaktu meletusnya gunung Tambora tahun 1815 dilihat dari bagian-bagian yang runtuh pada bagian selatan bibir yang mengitari danau itu. Diperkirakan tinggi air laut yang menerjang dinding selatan Satonda itu sekitar 10 meter.

Kedalaman danaunya bervariasi antara 15-69 meter. Airnya bening. Keasinannya pun berbeda. Pada permukaan hingga 22,8 meter kadar asin 90 persen dibanding air laut. Sedangkan di kedalaman 50 meter ke bawah melebih air laut yaitu 108-117 persen.

Kalau di laut bisa ditemui ikan terbang, lumba-lumba. Sedangkan di daratannya, bisa dijumpai menjangan (rusa). Di sana terdapat pohon Kalibuda yang getahnya beracun bisa membutakan mata, dipercaya sebagai pohon keramat. Pada ranting-rantingnya bergantungan ”batu cita-cita”. Yaitu batu yang diikat tali digantungkan pada rantingnya yang dipercayai sebagai tempat menyalurkan keinginan. Di sebelahnya ada makam keramat seseorang yang dipercayai mengalami mukso (raganya menghilang).

Kalau kita ke sana, akan bertemu penjaganya, Letnan Muda I (purn) Pudjadi R, yang mengaku teman sekolahnya Laksamana Sudomo, sekompi dengan Jenderal Susilo Sudarman dan Jenderal Gatot Soebroto. Kata Pudjadi, di situ pun Sudomo sewaktu berkunjung pernah ikut menggantungkan batu.

Untuk para pecinta alam, dari bukit di sana terlihat panorama alam dan matahari yang tenggelam. Yang menyukai panjat tebing di sana terdapat tebing terjal, bukit berhutan dan semak belukar yang ditumbuhi bermacam tumbuhan berduri. Untuk ilmuwan atau mahasiswa, bisa dilakukan penelitian terbentuknya sedimen, mikrobiologi, biokarbonat, jenis lumut dan karang serta perubahan zat kimia. Suasananya juga dilengkapi suara kicaunya burung dan monyet. Si babi hutan mencari makan dan menjangan yang berlari.

Menurut Wakil Kepala Dinas Pertambangan Nusa Tenggara Barat Heryadi Rachmat, di Satonda ada tumbuhan yang telah menjadi fosil (prekambrium) yang dari umurnya sangat tua sekali di dunia. Bisa mencapai jutaan tahun dari aspek geologi dan biologi. ”Beberapa ahli datang ke sana karena tertarik hal tersebut,” ujarnya. Di danau tersebut terdapat karang yang sebenarnya hanya ada di laut.

Gunung tersebut telah menjadi lubang kawah yang sempat terendam laut sehingga tumbuh karang yang beberapa ribu tahun lalu karang itu mati menjadi batu karang. ”Jadi semua dasar danau itu karang semua,” ucap Heryadi. Dan adanya tanda-tanda gunung api di pinggirnya kelihatan lapisan strato - antara pasir dan batu lava jadi merupakan hasil gunung api itu jelas sekali.

Tokoh masyarakat Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu Masangan Losong, yang dikutip Heryadi, melalui publikasi khusus yang diterbitkan Pengurus Daerah Ikatan Ahli Geologi Indonesia Nusa Tenggara, hasil penelitian menyebutkan bahwa Satonda sebenarnya adalah sebuah pulau vulkanik (gunung berapi) yang timbul dari kedalaman 1000 meter. Akibat letusan yang tidak dipastikan waktunya, terjadi kaldera yang membentuk sebuah danau yang menyerupai angka delapan, kawah yang besar di sebelah selatan berdiameter 950 meter sedangkan yang di sebelah utara berdiameter 400 meter. Tingkat keasamannya PH 7,08-8,27 dan temperatur air 28,3 C-39,0 C. Pada awal-awalnya air di dalam danau adalah air tawar akan tetapi karena terjadinya perubahan pantai atau tsunami yang merupakan akibat dari letusan Gunung Tambora, 15 April 1815, maka air danau tersebut menjadi asin.

Di utara Kabupaten Dompu ini, pulau Satonda yang tanpa penghuni ini - karena puluhan tahun lalu dialihkan ke daratan seberang, setiap minggunya selalu ada saja datang kapal-kapal pesiar dari Bali dan Lombok sebagai persinggahan perjalanannya dari dan ke pulau Komodo. Satonda selama ini selalu menjadi perebutan penguasaannya oleh Pemerintah Kabupaten Bima dan Pemerintah Kabupaten Dompu. Berkaitan dengan potensi wisata, penduduk yang tinggal di Satonda dipindahkan ke Labuhan Kenanga-Bima.

Kawasan utara ini, oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Dompu, dicantumkan masuk dalam jalur segi tiga emas Tamosa. Yaitu pendakian ke gunung Tambora. Pulau Moyo di sebelah barat ? masuk Kabupaten Sumbawa - yang terkenal dengan hotel tenda Amanwana Resort yang pernah didatangi Lady Diana dari Inggris dan Pangeran William dari Belanda.

Versi masyarakat Kabupaten Bima, sejak zaman kerajaan, Satonda memang telah masuk wilayah Kengkelu-Tambora yang berkiblat ke Bima. Dompu pun waktu itu merupakan bagian dari Bima. Namun, pihak Dompu berpendapat berdasar perjanjian antara Belanda dan Kesultanan Dompu tahun 1886 dan 1905, bahwasanya status Satonda masuk wilayah Kesultanan Dompu.

Sebenarnya, akhir tahun 1995, gubernur NTB (waktu itu) H Warsito menyerahkan pulau Satonda kepada Pemda Kabupaten Dompu. Ketika itu, ada tiga pertimbangannya. Dari segi geografis, demografi dan kondisi daerah. Tetapi, sejak itu mendapat reaksi DPRD Bima yang menolak SK gubernur NTB nomor : 678 Tahun 1995 tertanggal 26 Desember 1995.(supriyantho khafid)

Perjalanan ke Satonda
Pulau Satonda ini terletak di Laut Flores, sekitar tiga kilometer dari semenenanjung Sanggar. Kordinat posisinya, 8 derajat 7 menit Lintang Selatan dan 117 derajat 45 menit Bujur Timur. Apabila kita datang ke Nusa Tenggara Barat melalui kota Mataram, maka perjalanan ke Dompu bisa ditempuh menggunakan bus yang berangkat pada pagi hari atau sore. Ongkosnya Rp60 ribu. Kemudian dari Dompu menggunakan bis yang ongkosnya ke Calabahi Rp15 ribu dan ongkos carter penyeberangannya menggunakan speed boat, sekitar Rp50 ribu.

Dari kota Dompu, agak berat menjangkaunya. Untuk bisa sampai di seberang pulau itu, diperlukan perjalanan darat yang melelahkan. Sebenarnya, wilayah utara Dompu ini sebagian jalan daerahnya belum mulus beraspal. Jarak 106 kilometer dari kota Dompu ke Calabahi waktu tempuhnya sekitar 6 jam, tidak nyaman dilalui karena jalannya banyak berlubang sehingga terasa melelahkan. Karena itu, lebih banyak wisatawan yang datang ke sini melalui jalur laut.

Wisata di utara Kabupaten Dompu ini bisa berburu karena banyak babi hutan yang oleh rakyat dianggap sebagai hama, pendakian gunung Tambora, juga meninjau perkebunan kopi dan mete baik yang dikelola oleh perusahaan maupun masyarakat setempat yang sebagian besar para transmigran asal Lombok. Perkebunan mete mencapai 5.000 hektar. Oleh karenanya wilayah utara ini disebut sebagai daerah agrowisatanya Dompu.(supriyantho khafid)

Gunung Tambora
Gunung Api Tamboran sangat terkenal di dunia. Letusannya, yang terjadi 10-11 April 1815 sangat dahsyat menimbulkan korban 92.000 jiwa. Lokasinya sekitar 30 kilometer arah tenggara seberang dari Satonda. Secara geografis berada pada posisi 08 derajat 15 menit Lintang Selatan dan 118 derajat 00 menit Bujur Timur. Seluruhnya masuk wilayah Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima. Namun seluruh bagian puncaknya (kaldera) terletak dalam wilayah Kabupaten Bima.

Gunung api Tambora merupakan gunung api aktif strato tipe A, ketinggiannya +2.852 meter memiliki kaldera dengan garis tengah bibir sekitar 7 kilometer dan dasar kawah 3.500 kali 4.000 meter, dan kedalamannya sekitar 950 meter. Di dalam kaldera sebelah barat terdapat sebuah danau dengan garis tengah arah selatan utara sekitar 800 meter, timur barat 200 meter, mempunyai kedalaman mencapai 15 meter yang terletak pada ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut. Pada dasar kawah di bagian selatan terdapat kerucut parasit bergaris tengah mencapai 100 meter dengan ketinggian sekitar 10 meter yang disebut Doro Afi Toi (gunung api kecil) yang merupakan pusat kegiatan gunung api Tambora saat ini.

Kalau melalui Bima, melalui Desa Doropeti di Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu - bagian selatan gunung Tambora yang merupakan lokasi Pos Pengamatan Gunung Api Tambora dengan waktu tempuh sekitar lima jam. Sedangkan apabila langsung dari Mataram melalui Pelabuhan Poto Tano Sumbawa waktu tempuhnya sembilan jam ke Doro Peti yang terletak di ketinggian sekitar 24 meter di atas permukaan laut.

Untuk mencapai puncak atau bibir kaldera gunung api Tambora ini, pendakian dapat dilakukan dari beberapa arah diantaranya yaitu jalur sebelah barat melalui Calabahi dan kampung Pancasila sampai ke bibir kaldera bagian barat. Jalur ini merupakan lintasan umum namun memerlukan waktu yang cukup lama yaitu bisa mencapai 2-3 hari.

Jalur dari sebelah utara melalui desa Kawinda Nae sampai bibir kaldera bagian utara, jalur ini relatif lebih pendek dan cepat melalui hutan namun jalannya terus mendaki dari sejak awal pemberangkatan.

Jalur dari arah sebelah barat daya dari kampung Doropeti ke arah timur laut sampai bibir kaldera bagian barat-barat daya, melalui hutan lebat yang banyak ditemukan pohon Jelatang atau nama setempat Maladi yaitu tumbuhan yang menyengat bila terkena kulit serta banyak dijumpai pacet atau lintah. Waktu tempuhnya sekitar 1,5 hari dari pos melalui hutan, lereng dan bibir kaldera.

Jalur dari sebelah selatan melalu Desa Doropeti ke arah timur sekitar 12 kilometer melalui jalan aspal kemudian belok ke utara mendaki melalui perkebunan sampai ke bibir kawah bagian selatan, waktu tempuhnya sekitar sehari. Pada jalur ini merupakan alang-alang yang kering dan gersang, namun dapat dilalui roda empat jenis jip sampai ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut dalam waktu tiga jam. Kemudian dilanjutkan jalan kaki sampai bibir kawah sekitar 3-4 jam

sumber : yonk-q.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar